Minggu, 03 Januari 2016

Umur 30-an Tapi Belum Menikah? Kamu Panik?

Setelah sukses melewati umur 20-an yang cenderung banyak kejutan, kamu akan memasuki fase baru dalam hidup. Yup, usia kepala tiga.
Di fase ini, banyak hal yang harus kamu persiapkan dengan matang. Mungkin di tahap hidup yang inilah kamu harus mengambil keputusan atau perubahan besar-besaran, yang akan mengagetkan keluarga, teman, atau malah dirimu sendiri. Mau tahu perubahan apa aja yang mungkin terjadi, atau apa aja yang harus kamu persiapkan menginjak umur 30-an? Yuk, simak!

1. Kamu Mulai Malas Pergi Nongkrong AtauShopping
Di umur 20-an, kamu mungkin masih suka menghambur-hamburkan uang. Dari mulai jajan, nongkrong bareng teman-teman, atau sekedarshopping gara-gara bosen nggak ada kerjaan. Tapi, memasuki umur 30-an, kamu merasa punya kewajiban untuk mengencangkan ikat pinggang. Karena…
Kamu Berniat Menabung Untuk Hari Tuamu
Ya, kamu berusaha mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang sekiranya nggak penting. Kamu sadar bahwa sebentar lagi kehidupan akan membawamu pada masa tua. Membayangkan ketika sudah pensiun, nggak bekerja, dan menyibukkan diri di kebun belakang rumah, kamu mulai sedikit khawatir.
Apa tabungan masa tuamu sudah cukup banyak? Atau, kamu bahkan belum mulai mempersiapkannya?
Menginjak umur 30-an, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah segera melunasi hutang-hutangmu. Lunasi sebanyak dan secepat yang kamu bisa. Kedua, siapkan dana darurat. Ini penting kalau kamu tiba-tiba sakit atau (amit-amit) kecelakaan. Ketiga, buat rekening baru untuk menyimpan sebagian gajimu.
Kamu juga nggak boleh bersikap sembrono. Jangan berinvestasi kalau kamu nggak benar-benar paham soal investasi itu. Selain itu, kamu nggak boleh gampang percaya sama mbak-mbak atau mas-mas MLM. Menabunglah sebanyak mungkin dan sedini mungkin dengan disiplin. Semakin dini kamu menyiapkan tabuanganmu, maka semakin besar kemungkinan kamu bisa hidup tenang di masa tuamu.
2. Kamu Berhenti Makan Junk Food Dan Begadang
Nggak ada lagi toleransi buat ngemil pizza atau burger. Jika dulu kamu berpikir bahwa “apa aja dimakan asal kenyang”, kamu sudah berubah. Nggak ada lagi jadwal lembur untuk menyelesaikan pekerjaan hingga dini hari. Kamu sadar bahwa kurang tidur berpotensi mengakibatkan berbagai penyakit.
Ya, Kesehatan Sudah Jadi Prioritasmu
Kamu mulai belajar disiplin pada dirimu sendiri, bahwa mengkonsumsi makanan sehat itu sangat penting. Baca-baca di internet dan beli majalah kesehatan, kamu baru sadar betapa pentingnya makan sayur. Selain itu, kamu berusaha menjaga waktu tidurmu, setidaknya 6,5 – 8 jam per hari. Jika dulu kamu malas buat olahraga, jogging pagi dan nge-gym sekarang sudah jadi agenda rutin.
Sadar atau nggak, tubuhmu bisa dibilang sudah mulai menua. Sebenarnya, soal kesehatan harusnya sudah jadi perhatianmu sejak usia 20-an. Bagaimana kamu memperlakukan tubuhmu itu sifatnya kumulatif. Tubuhmu nggak akan tiba-tiba rusak dalam waktu setahun atau dua tahun ‘kan? Soal kanker, jantung, diabetes, atau darah tinggi itu tergantung  bagaimana pola hidupmu.

3. Kamu Belajar Berani Menolak Ajakan Yang Nggak Baik
Perlahan, kamu berusaha untuk tegas pada dirimu sendiri. Kamu sadar bahwa ada hal-hal nggak penting dan nggak bermanfaat yang selama ini sering kamu lakukan. Misal, kamu dulu sering pergi ke klub malam atau bahkan mabuk. Di umur ini, kamu mulai memberanikan diri buat meyeleksi teman-temanmu yang nyatanya memberi pengaruh buruk.
Sekalipun Harus Kehilangan Teman, Hidupmu Harus Naik Level
Kamu sadar betapa pentingnya memanfaatkan uang, tenaga, dan waktumu semaksimal mungkin. Secara nggak langsung kamu membuat garis pembatas. Mulai menjauhi orang-orang yang tidak bisa memperlakukanmu dengan baik. Meninggalkan mereka yang cuma ingin bersenang-senang dan nggak mikirin masa depan.
Mungkin nggak mudah buat menjauh dari teman-temanmu. Kamu merasa menjadi seseorang yang egois karena menolak mereka. Tapi, mengutamakan kepentingan dirimu sendiri saat ini jauh lebih penting. Di umur 20-an kamu bisa punya teman sebanyak mungkin. Tapi, di umur 30-an kamu sadar bahwa sedikit teman itu nggak masalah. Asalkan, mereka mendukung perubahanmu menjadi manusia yang lebih baik.
4. Kamu Nggak Lagi Kabur-Kaburan Kalau Ada Acara Keluarga Besar
Dulu, kamu jarang banget ada di rumah dan sering absen ketika ada arisan keluarga atau semacamnya. Waktumu habis buat kuliah atau kerja. Sekalipun ada waktu luang, kamu lebih milih hangout sama teman-temanmu. Bagimu, kumpul keluarga cuma jadi agenda membosankan.
Keluarga Seharusnya Jadi Yang Utama
Ketika di satu sisi kamu membatasi pergaulanmu, di sisi lain kamu mulai menyadari keberadaan orang-orang yang menyayangimu. Ya, mereka adalah keluarga. Teman bisa datang silih berganti, tapi keluargamu selalu ada mendukungmu.
Kamu sadar betapa pentingnya quality time dengan mereka. Menyempatkan untuk sekedar bertemu dan makan bersama. Waktu nggak akan berjalan mundur lho, guys! Kamu mungkin akan menyesal ketika tiba saat dimana satu demi satu keluargamu pergi untuk selama-lamanya. Selagi masih ada waktu, tunjukan betapa kamu menyayangi mereka.

5. Kamu Nggak Plin-Plan, Tapi Bisa Memilih
Berapa banyak mimpimu saat masih usia 20-an? Okelah, kamu merasa punya banyak waktu buat mewujudkan semuanya. Tapi, kedewasaan menuntunmu untuk sadar bahwa nggak semua mimpi itu bisa kamu wujudkan. Nggak semua keinginanmu bisa terwujud.
Fokus Pada Satu Karir Yang Emang Jadi Impianmu
Ya, kamu jadi lebih fokus pada salah satu mimpimu. Menjadi pegawai bank bukanlah cita-cita, maka persiapkan dirimu untuk banting setir. Kalau kamu pengen buka warung nasi pecel, mulailah fokus pada satu tujuan itu. Jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Yang namanya meraih mimpi pasti butuh pengorbanan.
Banyak orang memilih karirnya di usia remaja. Sayang, pilihan itu seringkali salah. Di umur 30-an, kamu lebih baik fokus pada satu hal yang memang kamu yakini. Nggak ada lagi waktu buat coba-coba atau setengah-setengah dalam mengejar mimpimu. Kamu berpacu dengan waktu.
Secara umum, 30-an dianggap sebagai umur matang seseorang, khususnya soal karir. Coba deh perhatikan di media sosial. Mereka yang sudah memasuki umur 30-an akan bersikap secara profesional, mencantumkan nama lengkap dengan gelar serta menuliskan pencapaian-pencapaian mereka secara terbuka.

6. Kamu Berpikir, Tapi Nggak Takut Ambil Risiko
Saat remaja kamu nggak pikir panjang untuk membuat keputusan. Di umur 20-an, kamu mulai berpikir tapi takut memilih dan memutuskan. Nah, di umur 30-an ini kamu baru bisa berpikir secara dewasa tanpa rasa takut untuk mengambil risiko besar dalam hidupmu.
Usia 30-an Bisa Jadi Sebuah Titik Balik
Nah, jika kamu merasa hidup yang kamu jalani sekarang bukanlah yang kamu impikan, segera reset hidupmu. Belum terlambat kok. Orang-orang yang akhirnya menyesal adalah mereka yang takut berubah. Mereka memutuskan tetap bertahan untuk hal-hal yang sebenarnya dirasa tidak baik.
Renungkan kembali, apa yang kamu inginkan dalam hidup ini? Kamu mungkin sudah berada di puncak karir, entah jadi manager atau bos. Tapi, apa itu sesuai renjanamu? Kamu sudah ‘cukup mapan. Punya mobil pribadi, rumah sendiri, kartu kredit, dan bisa liburan tiap akhir pekand. Apa itu yang kamu impikan?
Ketika kamu ingin berubah, yakinlah bahwa niat itu datangnya dari dirimu sendiri. Jangan mau didikte orang lain atau lingkungan yang mengatakan “hey, kamu udah 30 tahun, lho!”
7. Kamu Bukan Lagi Gamer yang freak Atau Traveler Galau
Betapa pentingnya memanfaatkan waktu buat mengembangkan diri. Ya, kamu merasa nggak cukup pintar, kurang membaca, atau nggakupgrade ilmumu. Jika dulu waktumu habis buat main game atau traveling sesuka hati, sekarang kamu ingin lebih banyak belajar.
Mending Ikutan Seminar Investasi
Di usia 30-an kamu akan berpikir serius tentang cara mengembangkan diri. Sekarang, kamu lebih haus secara intelektual.
Berpikir buat lanjut kuliah lagi, ikut organisasi, atau datang ke seminar investasi dan pengembangan diri. Tujuanmu adalah meningkatkan kualitas secara individu. Jadi, orang yang lebih baik dimanapun dan dengan siapapun. Kamu ingin sukses dalam berbagai segi kehidupan.

8. Umur 30-an Tapi Belum Menikah? Kamu Panik!
Khusus buat para cewek, umur 30-an dan belum menikah itu seringkali dianggap tabu. Banyak orang menganggap kalau kamu telat nikah berarti nggak laku. Bayangan jadi perawan tua dan ketakutan buat hamil di umur 30-an membuatmu makin panik.
Sedangkan buat cowok, belum menikah di umur 30-an mungkin nggak terlalu mengerikan. Tapi, diam-diam kamu juga mulai iri dengan teman-temanmu yang sudah berumah tangga.
Kamu Berusaha Menemukan Pasangan Yang Sepadan
Untuk membangun rumah tangga, kamu butuh pasangan yang lebih dari sekedar seru atau ‘nyambung’. Pertimbangan soal keluarga, bebet bibit bobot jadi sangat penting. Apakah hubungan pacaran yang sekarang kamu jalani sudah layak dibawa ke pelaminan? Apakah ada ketidakcocokan yang membuatmu belum menikah dengannya sampai hari ini? Atau, kamu memang belum siap secara mental dan finasial?
Sementara itu, kondisi makin mengerikan buat mereka yang jomblo di umur 30-an. Kamu berharap bisa menuliskan “cari jodoh” di keningmu. Mulai ngecek teman-teman di Facebook atau Twitter, kontak sama teman-teman lama, minta dikenalin sama temannya temanmu, atau malah “dibantu paksa” oleh keluarga besar. Kamu berusaha menemukan seseorang yang memang bisa diajak serius dan menikah.

9. Ketika Sudah Menikah Dan Punya Anak?
Umur 30-an dan sudah punya keluarga sendiri, kamu merasa mereka adalah kebahagiaan sekaligus hartamu. Menjalani kehidupan sehari-hari bersama istri atau suamimu, lalu melihat anak-anakmu lahir dan bertumbuh setiap harinya.
Fokusmu Adalah Mereka
Ya, keluarga punya posisi nomor satu. Kamu bekerja untuk pasangan dan anak-anakmu. Apakah keluarga kecilmu bisa hidup dengan layak? Bagaimana soal pendidikan dan masa depan anak-anakmu nanti? Kamu mulai mendedikasikan hidupmu untuk mereka, keluarga kecilmu.
10. Tapi, Terkadang Kamu Nggak Boleh Terlalu Serius
Umur 30-an nggak merubah pakem bahwa hidup adalah teka-teki. Entah kejutan, kebahagiaan, atau musibah apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Kamu nggak boleh terlalu serius atau bahkan stres menghadapi fase baru dalam hidupmu. Umur 30-an bisa jadi sekedar angka 3 dan 0 tanpa perubahan dan persiapan apa-apa kalau kamu memang nggak menginginkannya.
Sesekali, Kamu Boleh Egois Untuk Kebahagiaanmu Sendiri
Jangan membuat hidupmu membosankan. Luangkan waktu untuk melakukan apa yang bisa membuatmu menikmati kebahagiaanmu sendiri. Apakah kamu suka baca buku, main musik, atau menulis? Kamu boleh dan layak menikmati hobimu untuk kesenanganmu sendiri. Perlakukan dirimu dengan lebih baik.
Di umur 20-an kamu mungkin merasa paling tau apa akan terjadi dalam hidupmu. Di umur 30-an kamu sadar bahwa kamu sama sekali nggak mengerti apa-apa tentang rencana Tuhan. Di umur 40-an kamu akan belajar menerima segala sesuatu dalam hidup, entah itu baik atau buruk. Hingga di umur 50-an, kamu hanya bisa bersyukur dan merasa bahwa hidupmu luar biasa.

Di Indonesia, adalah hal yang sangat aneh sekali jika seorang wanita belum menikah di usia lebih dari 30 tahun. Dan memang sebagian besar wanita yang mengkhawatirkan hal ini. Mereka menjadi takut ketika usianya sudah mau memasuki usia 30-an, bellum meninkah atau bahkan belum memiliki pasangan. Apakah kamu salah satu dari wanita ini?
Belum menikah atau belum berpasangan di usia menjelang 30-an bukanlah hal yang buruk, apalagi sampai men-judge diri sendiri sebagai wanita yang “nggak laku”. Jangan panik. Tetaplah jalani kehidupanmu dengan bahagia. Lakukan tips ini ketika kamu memang ingin mencari pasangan dan menjalani hubungan sampai ke pelaminan.
Mau Membuka Diri
Langkah yang tepat untuk menemukan pasangan adalah membuka diri. Coba renungkan kembali, apa selama ini kamu berteman di lingkungan itu-itu saja? Apa kamu sudah membuat teman baru akhir-akhir ini? Cobalah ikuti kegiatan sosial, atau berhubungan lagi dengan beberapa teman lama. Kalau kamu mau mencoba lebih jauh lagi, bisa menjajal aplikasi dating online. Intinya, jangan menjadi pribadi yang tertutup. Bertemanlah sebanyak-banyaknya, ladies.
Jangan Jadi Wanita yang Picky atau Terlalu Pasrah
Kebanyakan wanita di usia seperti ini mencari pria yang sempurna, baik dari segi fisik, finansial, dan hal lainnya. Sehingga saat menyeleksi pria, mereka langsung mengeliminasi kandidat yang nggak memenuhi kriteria. Padahal, boleh jadi ia hanya “kurang sedikit sempurna”.
Ingat Ladies, semua manusia di dunia nggak ada yang sempurna, kamu pun begitu. Selain itu, ketika mengharapkan pria sempurna, apakah kamu juga sudah sempurna? Maka, janganlah terlalu pemilih dengan berharap suatu saat ada pria yang sempurna datang ke dalam kehidupanmu. Sebaliknya, jangan pula jadi wanita yang terlalu “menerima apa adanya”.
Kamu perlu menentukann kriteria yang tepat untuk menjadi pasanganmu. Pilihlah pria yang cukup potensial, dengan kelebihan yang kamu suka dan kekurangan yang dapat kamu terima.
Jadikan Pasangan Sebagai Sahabatmu
Ketika kamu sudah mulai menjalani hubungan dengan pria yang kamu idam-idamkan, jalani asmara seperti biasanya.
Jangan karena kamu berharap untuk menikah, maka hubungan ini dibawa terlalu kaku. Jalani dengan santai, nikmati kisah cinta kalian. Jadikan pasangan sebagai sahabatmu. Ciptakan suasana hubungan yang nyaman dan menyenangkan sehingga pria pun betah berada di sampingmu. Kalau kamu terlalu terburu-buru untuk mengajaknya menikah, pria akan merasa nggak siap dan pergi meninggalkanmu.
Jangan Insecure
Janganlah menjadi pribadi yang insecure. Apalagi di saat seperti ini, perasaan insecure dapat dipengaruhi dari teman-teman yang sudah menikah. Kamu jadi takut pasangan pergi berselingkuh dan meninggalkanmu, atau hal lain sejenisnya. Akibatnya, kamu jadi wanita yang posesif dan mengekang dalam hubunganmu.
Tetaplah percaya diri dan berpikiran positif. Nikmati hubungan ini dan jauhkan diri dari perasaan insecure.
Percayalah, justru insecure yang membuat pasangan pergi. Kalau kamu menjadi wanita yang lovable, pasangan nggak akan ninggalin kamu tuh.
Jangan Langsung Membahas Pernikahan
Kami tahu bahwa sebagian dari kamu ingin langsung menikah dengan pasanganmu. Tetapi, usahakan jangan terburu-buru membahas pernikahan dengan pasanganmu, terutama bagi yang baru saja memiliki pasangan.
Kamu masih butuh waktu untuk mengenal lebih dalam si pria, masih butuh waktu untuk menyesuaikan dan membuat kompromi-kompromi dengannya dalam menjadi hubungan. Selain itu pria akan merasa bahwa adalah kamu wanita agresif yang menyerangnya dengan ajakan menikah.
Menanyakan Keseriusannya
Walaupun nggak boleh terburu-buru mengajaknya untuk menikah, kamu bisa menanyakan keseriusannya dalam menjalani hubungan denganmu.
Sebab, kamu nggak ada waktu untuk bermain cinta dengan seorang pria yang belum bisa berkomitmen bukan? Jadi, setelah menjalani hubungan beberapa bulan lamanya, kamu dapat menanyakan keseriusannya dalam menjalani hubungan. Jika ia nggak serius, sebaiknya cari pria yang bisa diajak berkomitmen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar